Pages

Friday, March 1, 2013

Cara Menggunakan Tian Ya Film Picker


Alat ini baru kudapat dari temen sesama penggemar kamera film: TIAN YA FILMPICKER, begitulah nama yang tertempel di alat ajaib ini. Alat ini berfungsi untuk mengambil lidah film yang tertelan masuk ke dalam canister, biasanya karena kebablasan waktu memutar balik film setelah habis dijepret. Untuk film color sih nggak masalah karena lidah film yang tertelan menjadi urusan lab yang memprosesnya. Namun untuk film BW yang kuproses sendiri hal ini bisa menjadi kendala yang cukup merepotkan apalagi kalau menggunakan film seperti Neopan, TMAX, Ilford, yang cukup susah dibuka canisternya -- beda dengan film Lucky SHD 100 yang canisternya sangat mudah dilepas/dibongkar.

Sunday, January 29, 2012

Kokang Ricoh KR-5 Super Tidak Mengunci Setelah Dikokang [Repair]

Ricoh KR-5 Super

Baru-baru ini aku mendapatkan kamera Ricoh KR-5 Super dengan kondisi cukup mulus, tidak ada tanda-tanda pembongkaran dan masih orisinil semua. Pertama kali kucoba, mekanik berfungsi semua. Lancar jaya.

Namun hingga pada waktu test roll, setelah beberapa frame kutemukan kerusakan pada sistem kokangnya, yaitu kokang masih bisa digerakkan setelah dikokang. Jadinya pengokangan bisa dilakukan 2 kali atau lebih tanpa melepaskan tombol shutter yang berakibat film tidak terekspos 1 frame atau lebih. Ini sangat tidak bagus.

Thursday, May 26, 2011

Parodinal - Developer Film Hitam Putih Buatan Sendiri

Setelah beberapa bulan asyik jeprat-jepret dengan film hitam putih, aku sering mengunjungi forum-forum dan blog tentang cuci-mencuci film BW, utamanya Lucky SHD film murmer andalanku. Developer yang sering dipakai oleh teman-teman di forum kebanyakan adalah MicroMF dan ID-6. Namun beberapa bulan terakhir ini, sebuah developer buatan sendiri yaitu Parodinal, ngetren juga dipake oleh teman-teman. Apa sih Parodinal itu?

Sunday, March 6, 2011

Sensor Hitam Putih Lucky SHD 100

Aku saat ini sangat menikmati djeprat-djepret dengan sensor Lucky SHD 100.

Apa pula sensor Lucky itu?
Teruskan saja membaca :-)

Wednesday, January 12, 2011

Lensa Pancake Mungil dari Rusia: Industar 50-2

Pancake? Ini bukan blog tentang masak-memasak, tentu saja! Itulah sebutan untuk lensa mungil dengan bodi pendek menyerupai kue apem, atau pancake [ˈpænkeɪk].

Lensa Industar 50-2 ini didesain untuk kemudahan untuk membawanya, yang sebenarnya tidak sepadan dengan fakta bahwa kamera [D]SLR itu sendiri yang tidak bisa dikatakan compact. Fungsi compact-nya bisa dirasakan bila memakai saudara lensa ini -- Industar 50, yang mempunyai mount M39 -- pada kamera rangefinder, seperti kamera Rusia FED atau Zorky.

Sunday, December 26, 2010

Elemen Lensa Belakang Terbalik Berakibat Foto Nge-glow

Beberapa waktu lalu aku mencoba memperbaiki sendiri lensa Jupiter-37A MC yang coating lensanya rusak parah, mengelupas di beberapa tempat pada elemen optik paling depan. Aku berpikir untuk sekalian menghilangkan saja coatingnya setelah melakukan riset di Google, yang akhirnya kuketahui hilangnya coating akan berpengaruh pada flare. Kupikir itu bukan masalah selama tidak banyak cahaya terang yang masuk ke lensa. Akhirnya kubersihkanlah lensa Jupiter-37A itu dengan menggosoknya hati-hati menggunakan tisu lembut dan sedikit pasta gigi yang abrasif, biasanya berwarna putih dan bukan hijau (ngga nyebut merk, ntar dikira promosi hehehe). Hasilnya, lumayan bersih meskipun ada beberapa spot masih ada coatingnya (terlihat dari perbedaan warna pantulan cahaya pada permukaan lensa), aku memutuskan berhenti menggosoknya karena takut akan meninggalkan goresan pada beling optik, bukan menghilangkan coatingnya.

Lensa Normal Helios 58mm f/2

Sebelum mulai membahas The Famous Russian "Helios", apakah lensa normal itu? Di dalam fotografi, lensa normal adalah sebuah lensa yang sudut pandangannya sama atau mendekati sudut pandangan mata manusia. Lensa normal ini dalam dunia fotografi format 35mm biasanya mempunyai panjang fokal (focal length) 45, 50, 55, atau 58mm. Dalam dunia fotografi digital dengan sensor APSC (sensor yang dengan crop factor: 1.5 khususnya pada Sony Alpha-ku), sudut pandang normal bisa didapatkan dengan panjang fokal lensa 28 hingga 35mm. Kenapa begitu? Karena sensor APSC berukuran lebih kecil daripada luas sensor (dalam hal ini film) format 35mm, sehingga jika kita menggunakan lensa untuk format 35mm akan terjadi pemotongan (cropping) terhadap luas gambar. Pada kamera Sony Alpha-ku dengan crop factor 1.5, gambar yang dihasilkan oleh lensa Helios ini akan menjadi seperti gambar yang dihasilkan oleh lensa 87mm (1.5 x 58mm) pada kamera film (atau dikenal juga dengan kamera full frame: tanpa adanya crop). Sehingga, pada kamera APSC hasil lensa normal Helios ini menyerupai hasil lensa short tele.

Bingung? Tenang aja, aku pada awalnya juga bingung kok dengan crop factor dan APSC ini. Tetap gunakan kameramu dan terus membaca blog ini atau forum-forum fotografi, kamu akan menemukan sendiri jawabannya, karena kali ini aku hanya akan membahas lensa Helios 58mm f/2 yang aku miliki.

Kenapa Helios ini begitu terkenal di kalangan pengguna lensa fokus manual, di Indonesia maupun di luar negeri?